Seorang ibu yang belajar dan berproses untuk merawat dan menumbuhkan fitrah keluarga

Senin, 24 Oktober 2016

Yuk, menanam pohon!

11.15 0 Comments

Belajar merupakan kegiatan yang mengasyikkan bagi anak-anak jika diramu dengan cara yang selalu berbeda. Anak-anak mudah bosan jika belajar yang dilakukan hanya itu-itu saja. Selain itu, belajar harus bermakna (meaningful learning). Apa maksud bermakna ini? Bermakna berarti bahwa pembelajaran tersebut membekas dan dapat diaplikasikan dalam kegiatan keseharian mereka.
Kegiatan yang bertema alam merupakan hal yang paling disukai oleh anak-anak. Dengan belajar di luar ruangan, mereka bisa mengeksplorasi dunia sekitarnya. Seperti yang dilakukan oleh anak-anak kelas 1 ini. Mereka sedang menanam pohon di sekitar halaman sekolah. Dengan ditemani oleh ibi gurunya, anak-anak sangat antusias menanam pohon yang mereka bawa dari rumah.
Kegiatan ini merupakan bagian dari metode pembelajaran yang digunakan oleh sang guru, yaitu pembelajaran kontekstual. Materi yang diberikan adalah tentang pelestarian lingkungan. Dengan metode pembelajaran ini, guru mengajak siswa untuk terlibat langsung dalam proses penanaman pohon di sekitar sekolahnya. Dengan kegiatan ini, anak-anak diharapkan dapat ikut menjaga kelestarian tanaman yang mereka tanam sendiri. Kelak ketika sudah besar pun mereka diharapkan mempunyai kesadaran untuk menjaga lingkungan di sekitarnya dengan penghijauan.
Lihatlah, mereka sungguh menikmati kegiatan pagi itu.



Noer_azhief
Foto: bu Amin dan Nuha

Rabu, 05 Oktober 2016

Kapan Belajarnya, Bu?

14.54 0 Comments
Di pagi yang cerah, ketika sinar matahari berpendar menerobos celah kaca yang tak tertutup oleh display yang ditempel di sebuah kelas yang berisi 28 anak. Semburat jingga warna sinarnya membawa keceriaan dalam proses pembelajaran yang ada di kelas tersebut. 28 anak sedang melakukan berbagai aktivitas yang bervariasi. Sebagian memegang gunting di tangan kanannya, sementara tangan bagian kiri memegang kertas yang kadang kala jatuh karena kurang kuat dalam memegang. Sebagian lagi ada yang mewarnai sebuah gambar dengan crayon yang warnanya menempel tak hanya di atas kertas yang sedang diwarnai, namun juga pada lantai, baju dan tangan serta wajah-wajah lugu nan lucu. Ada pula beberapa anak yang asyik dengan pojok bermain dengan mainan lego dan balok yang dirangkai menjadi berbagai karya sesuai dengan imajinasi dalam benak mereka. Sesekali terdengar cekcok ringan mendebatkan rupa dan bentuk bangunan kreasi bersama. Semarak suara celoteh yang saling saut dari sudut-sudut kelas, membuat kegaduhan yang terasa indah.
Sang guru berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain untuk memeriksa pekerjaan anak-anak. Pada saat guru tersebut mendekati kumpulan anak perempuan yang  sedang heboh mewarnai gambar dengan crayon di tangan, beberapa anak bertanya.
 ” Bu, kapan belajarnya?, kok dari kemarin belum belajar cuma bermain terus.”
 Itulah salah satu pertanyaan yang membuat sang guru sedikit terhenyak. Sang guru pun dengan pelan sambil duduk lebih dekat menjawab, “Loh, ini kan sedang belajar nak.” “Masak belajar cuma kayak gini aja bu, kalau belajar itu ya nulis, berhitung, membaca”, sergahnya. “Iya, kayak aku les itu lho bu. Semua buku dikeluarkan terus dipelajari.” Tambah anak yang lain. Sang guru pun hanya bisa tersenyum mendengar celotehan anak-anak tersebut. “Yah, nanti kita mulai belajar ya. Sekarang diselesaikan dulu pekerjaannya, oke?”. “Oke bu”, jawab mereka serempak.
Kejadian pada hari itu, mengingatkan sang guru pada proses pembelajaran yang pernah dialaminya  15 tahun yang lalu ketika di bangku sekolah dulu. Bagaimana sema proses belajar itu terjadi di atas meja, duduk manis menghadap ke papan tulis, mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh guru tanpa beranjak sedikitpun, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun selama beerapa jam. Bahkan, ketika ada yang ngobrol (istilahnya rame), sang guru akan langsung memanggil nama anak tersebut. Sebuah pembelajaran yang menekankan pada perhatian penuh terhadap semua yang diberikan oleh guru. Ketika diingat, memang banyak hal yang bisa didapatkan. Dari metode tersebut, anak cenderung diam, patuh dan menghargai gurunya. Tak sedikit pula siswa yang berhasil. Tak ada yang salah, sungguh tak ada yang salah dengan metode tersebut. Bahkan, sangat ingin kiranya mengucapkan terima kasih sepenuh langit terhadap sosok-sosok pengajar tersebut. Beliau-beliau lah yang mengantarakan dan menanamkan dasar pengetahuan ke dalam otak dan hati ini.


Nafisah_azhief

anaqukreatif.blogspot.com

Kunci yang Tak Sengaja Ditemukan

14.48 0 Comments

Hari ini waktunya jalan-jalan. Anak-anak akan diajak untuk mengunjungi beberapa tempat yang ada di sekolah, diantaranya ruang tata usaha, ruang kepala sekolah, ruang PSB, Ruang Komputer dan Ruang AVA. Sangat menyenangkan memang, terutama bagi anak-anak yang berlebih energi. Serasa mereka bisa mengekspresikan sesuatu yang mereka tunggu, yaitu mengeksplorasi alam luar.
Hingga pada suatu ketika tibalah di sebuah ruangan bernama Pusat Sumber Belajar. Pengelola membuat aturan bahwa sepatu diatur dengan rapi di luar ruangan, tentunya berdasar bahwa Islam itu mencintai keindahan. Seorang anak yang memang guratan pendiriannya tegas melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh temannya. Dia meletakkan sepatu secara acak, ditumpuk diantara sepatu yang lain. Langsung saja dia melenggang ke dalam ruang PSB.  Salah satu guru yang sedari tadi mengingatkan segera bergerak untuk menertibkan. Anak tersebut coba untuk dipaksa merapikan sepatu, tapi tak bisa juga. Justru dia memberontak dan bertanya “Kenapa harus ditata rapi?”.  
Setelah beberapa saat, salah satu guru datang padanya dan berkata, “Nak, coba sini duduk dengan Bu Guru. Lihat Bu Guru sebentar” dengan ogah-ogahan dia mencoba menuruti guru tersebut. “Bu Guru cuma mau bertanya, Islam itu mengajarkan kita kerapian tidak ya?”, anak tersebut mengangguk. “Nah, kalau begitu Bu Guru ingin kamu menunjukkan contoh bahwa Islam mengajarkan kerapian itu seperti apa. Itu saja, oke!” . Sang guru meninggalkan anak itu dan terlihat bahwa dia berpikir. Tak lama setelah itu, dia keluar ruangan, tak tahu apa yang mau dilakukan. Setelah anak tersebut masuk, sang guru melihat keluar dan ternyata sepatu yang tadi ditumpuk sudah berjajar rapi dengan sepatu yang lain.
Subhanallah, bertambah ilmu lagi bagi kami. Pelajarannya adalah bahwa hati anak hanya bisa disentuh dengan hati. Sebuah kayu yang bengkok, jika dipaksa diluruskan maka akan patah. Sejak saat itu, maka sang guru selalu mencoba membicarakan segala sesuatu dengan baik dan memantik anak-anak dengan pemikiran agar mereka terbiasa melakukan atas kesadaran mereka sendiri


nafisah_azhief

anaqukreatif.blogspot.com

Jumat, 09 September 2016

Wayang dan Pendidikan

14.03 0 Comments
Pendidikan di seluruh dunia kini sedang mengkaji perlunya pendidikan moral atau pendidikan karakter untuk dibangkitkan kembali. Hal tersebut di latar belakang di oleh semakin mengglobalnya kondisi zaman saat ini dimana propaganda media dengan berbagai variasonya tanpa disadari telah menggeser arti pendidikan secara prinsip. Masyarakat Indonesia yang masih kental dengan budaya timur lambat laun kehilangan jati dirinya. Budi pekerti masyarakat yang terkenal dengan sebutan "adi luhung" itu kini semakin memudar, digantikan oleh berbagai kebudayaan ala Barat.

Bertolak pada fungsi pendidikan nasional yang diharuskan berakar pada kebudayaan nasional, maka hal ini berarti bahwa antara pendidikan dan kebudayaan haruslah berjalan secara seimbang. Sejarah membuktikan bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan nilai-nilai budaya. Dalam kaitan dengan bidang pendidikan, kebudayaan ini dapat dimanfaatkan sebagai media dalam pendidikan. Khususnya dalam pendidikan karakter, salah satu rujukan yang perlu mendapat pangker
an dari masyarakat adalah wayang. Wayang merupakan salah satu warisan budaya yang mempunyai kelangsungan hidup khususnya pada masyarakat Jawa.

 Wayang mempunyai nilai hiburan yang mengandung cerita pokok dan juga berfungsi sebagai media komunikasi. Di samping itu, penyampaian cerita diselingi pesan-pesan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan, sehingga mempunyai nilai pendidikan. Variasinya dapat meliputi segi kepribadian, kepemimpinan, kebijaksanaan dan kearifan dalam kehidupan bermasyarakat serta bernegara. Kandungan moral dalam wayang sangat kompleks mulai dari tokoh, cerita sampai pada tembang yang mengiringinya. Banyak tokoh wayang yang bisa dijadikan suri tauladan dalam hal budi pekerti. Di saat banyak anak-anak menjadikan tokoh-tokoh kartun sebagai idolanya, maka tak kalah hebatnya daripada tokoh-tokoh kartun tersebut.(bersambung)


Noer azhief
Terinspirasi Ki Dalang Ahmad Rosyid Nur Maulana
Dalang cilik dari Wirik, Umbulrejo, Ponjong, Gunungkidul

Kamis, 01 September 2016

Class Pet

12.37 0 Comments
Class Pet

Apa itu "class pet"? Apa pula bedanya dengan "class pot"? Cuma satu huruf di belakang yang membedakan. Pada dasarnya ini program yang sama. Hanya saja yang dipelihara oleh anak-anak adalah binatang.

Dalam program "class pet", anak- anak mempupunyai kewajiban memiliki satu hewan peliharaan yang harus dirawat. Perawatan tersebut meliputi memberi makan dan minum, menjaga kebersihan hewan dan kandangnya, serta mengamati setiap proses tumbuh dan tingkah laku si hewan.

Menyenangkan pastinya. Konsep kecintaan terhadap hewan bisa disampaikan secara langsung. Materi tentang hewan juga tak lepas dari kegiatan ini.

'Konkret' itulah yang bisa ditangkap oleh otak anak  kita. Maka program "class pet" ini bisa jadi pilihan....

Pilih hewan apa untuk "class pet" kita???

Rabu, 31 Agustus 2016

Class Pot

12.17 0 Comments
"Class pot" adalah salah satu istilah yang pernah muncul dalam pelatihan ESD (Educational for Sustainable Development). Istilah tersebut di sematkan pada sebuah program sekolah yang membimbing siswanya untuk memelihara satu tanaman di dalam kelas. Setiap siswa berkewajiban merawat tanaman tersebut. Tanaman tersebut tidak hanya sebagai pajangan saja, akan tetapi juga digunakan sebagai media belajar. Dimulai dari proses memilih tanaman, mempersiapkan media untuk menanam dan yang paling menarik bagi anak-anak adalah proses menanamnya. Konon ceritanya, anak-anak sangat antusias mengikuti setiap detail prosesnya. Dalam melaksanakan proses tersebut, anak-anak diminta untuk mendokumentasikan. Dokumentasi tersebut ada yang berupa gambar, tulisan, tabel atau sekedar catatan kecil di samping tanaman masing-masing. Dan kalau semua dirangkum, proses tersebut sudah memuat materi beberapa pelajaran lho. Asik kan belajar nya. Bahkan, anak-anak merasa tidak sedang belajar,mereka sedang menanam dan merawat satu tanamannya di dalam kelas.

Tidak berhenti di situ, proses perawatan yang dilakukan setiap hari pun menjadi keceriaan tersendiri bagi mereka. Antri dalam mengambil air, menakar air yang diberikan, waktu pemberian air, membersihkan daun yang kering dan aktivitas lain. Yuhuy, bu guru tinggal mengingatkan saja ketika ada yang kurang pas. Penanaman karakter pun ada di sini. Budaya antri, menghargai, sabar, telaten, tekun dan masih banyak lagi.

Belajar tak hanya berhenti pada lembar-lembar buku yang penuh tulisan kam. Belajar bisa dari mana saja. Dari ciptaan-Nya pun kita bisa belajar banyak hal. Dan yang jelas, lebih enak mengajarkan anak akan kesyukuran atas nikmat-Nya.

Mana "class pot" mu teman?????

Alam Menunggu Gerak Kita

12.12 0 Comments
Saat ini kita mengalami perubahan musim yang tidak menentu di berbagai daerah. Musim kemarau yang berkepanjangan di berbagai wilayah telah memicu dampak yang sangat fatal. Sebagai contoh adalah kekeringan yang dialami di sebagian besar wilayah, kebakaran hutan di daerah perkebunan besar, menyebar nya berbagai penyakit pancaroba, serta dampak tak langsung lain dari adanya kekeringan yang berkepanjangan. Dampak tak langsung tersebut seperti hasil panen yang menurun karena kurangnya suplai air untuk kegiatan pertanian maupun perkebunan. Berkurang nya hasil panen menyebabkan pasokan bahan makanan di beberapa daerah pun berkurang.

Efek domino dari musim kering ini tentu saja menjadi satu perhatian penting. Dampak yang menyertai akan senantiasa bertambah jika tidak segera di carikan jalan keluar yang tepat. Menurut Einstein "problem lingkungan serius yang kita hadapi sekarang tidak dapat dipecahkan dengan cara berpikir yang sama saat kita membuat permasalahan". Memang sudah bukan waktunya untuk saling tanya atau tegur tentang siapa yang salah. Yang harus dilakukan saat ini adalah pencarian solusi bersama atas masalah yang sedang dihadapi. Kalau bukan kita yang bergerak, siapa lagi ?