Seorang ibu yang belajar dan berproses untuk merawat dan menumbuhkan fitrah keluarga

Jumat, 08 Desember 2017

Ekspresi Rasa Lewat Goresan Si Kecil

08.15 0 Comments

Kegiatan bermain memberi banyak kesempatan kepada anak untuk mengekspresikan perasaannya secara bebas. Melalui bermain anak dapat mengekspresikan perasaan senang, takut, khawatir, kecewa, sedih dan sebagainya. Tak dapat dibayangkan jika dunia anak tanpa bermain sama sekali. Mungkin tak hanya orang dewasa yang merasakan stress ataupun “galau” karena suatu masalah, akan tetapi anak-anak pun seperti itu. Apa jadinya jika banyak anak yang merasa terteka? Padahal selama ini, stress yang dialami orang tua dapat sejenak terlupa ketika mereka bertemu dengan anak-anaknya. Anak bagai obat mujarab bagi sedihnya orang dewasa. Banyak pesan disampaikan oleh para penggiat anak tentang penekanan akan pentingnya waktu bermain bagi anak. Waktu bermain merupakan hal yang sangat berharga bagi mereka. 
Ekspresi rasa dapat tersalur dengan bermain. Dan mungkin tak hanya berlaku bagi anak-anak saja, akan tetapi orang dewasa pun pasti merasa “enteng” ketika bisa meluapkan perasaannya dengan bermain. Jenis permainan anak untuk mengekspresikan perasaan sangatlah beragam. Salah satunya adalah dengan menggambar atau melukis. Kegiatan melukis, menggambar ataupun mewarnai sangat dekat dengan anak-anak. Apa yang tergores dari pensil ataupun pewarnaan dapat mencerminkan kondisi anak tersebut. Bahkan persoalan-persoalan yang terjadi seringkali diekspresikan melalui menggambar.
Dengan penggunaan alat-alat tulis seperti pensil dan crayon, anak akan mengembangkan kesenangan, minat dan kemampuan menggambar/menulisnya meskipun pada awalnya mungkin hanya berupa coretan-coretan yang seolah-olah tak punya makna apa-apa. Namun, penelitian Schicke (1990), disajikan dalam buku berjudul Adam’s Righting Revolutions menunjukkan bahwa coretan-coretan yang dibuat oleh anak itu bisa memiliki makna dan menunnjukkan perkembangan ke arah kemampuan yang sebenarnya. Maka tak salah kiranya jika orang tua memfasilitasi anak untuk mengekspresikan perasaannya lewat menggambar.  
           

          Nafisah Al Akhfiya’

Kamis, 23 November 2017

Kurikulum, Jangan Ketinggalan Zaman

13.45 0 Comments
Perubahan zaman yang terjadi pada abad ke-21 ini merupakan suatu hal yang tidak bisa dipungkiri apalagi dihindari. Globalisasi telah mengubah semua segi kehidupan dalam masyarakat. Perubahan tersebut diantaranya terjadi pada pemanfaatan teknologi. Saat ini, segala hal yang menyangkut kebutuhan manusia dicukupi dan diselesaikan dengan teknologi. Sebagai contoh perkembangan teknologi tersebut adalah adanya internet dan televisi yang memungkinkan penonton menentukan sendiri apa yang akan dipilih. Belum lagi segala peralatan komunikasi yang semakin canggih memberikan kesempatan untuk beraktivitas dan bermobilitas dengan sangat mudah. Adanya perkembangan teknologi tersebut menurut Giddens (2009:1) disebut sebagai sebuah dunia yang tunggang langgang (runaway world). Hal ini berarti bahwa jarak dan waktu bukan menjadi sebuah halangan bagi aktivitas yang akan dilakukan.
Gejala akan perubahan tesebut juga berdampak pada dunia pendidikan yang notabene memiliki hubungan erat dengan perubahan dalam bidang teknologi maupun ekonomi. Perkembangan dalam bidang ekonomi maupun teknologi tersebut telah mengubah karakter dari ilmu pengetahuan. Prof. Dr. Jimmy Assidiqie mengungkapkan bahwa dengan adanya ICT pada saat ini, proses pembelajaran pada lingkungan sekolah tidak memerlukan guru ataupun dosen sebagai penyampai ilmu. Ilmu pengetahuan dapat didapatkan dengan mudahnya melalui fasilitas yang sangat berlimpah di sekitar peserta didik[1]. Paradigma berpikir pembelajaran jaman dulu yang menganggap bahwa peserta didik sebagai sebuah gelas kosong harus diubah. Ketika pertama duduk di bangku sekolah, seorang peserta didik merupakan sebuah gelas berisi yang siap untuk diberikan warna dan rasa oleh para guru.
Pergeseran lain yang terjadi adalah dalam hal skill yang diasah. Pendidikan merupakan sebuah upaya untuk mengubah seseorang dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa. Oleh karena itu, skill/kemampuan yang diasah pun tidak hanya menitikberatkan pada siswa untuk tahu apa, tetapi lebih kepada siswa bisa melakukan apa dari ilmu yang diketahui. Bloom (2010: 26) menyampaikan  bahwa terdapat tiga ranah yang dikembangkan dalam proses pembelajaran yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Dari segi kognitif, pola pembelajaran di Indonesia sangat menonjol dengan mengantarkan siswanya untuk menghafal semua rumus dan konsep dari materi pelajaran. Namun, sisi psikomotor yang menitikberatkan pada praktik yang relevan dengan kehidupan sehari-hari masih sangat kecil porsinya. Sementara untuk ranah afektif yang menitikberatkan pada pembentukan karakter, saat ini sedang digaungkan melalui rencana implementasi kurikulum 2013.
Perubahan zaman yang membawa pada pergeseran pengetahuan dan tuntutan penguasaan skill / keterampilan yang lebih kompleks tersebut menuntut dunia pendidikan untuk senantiasa melakukan perbaikan. Salah satu komponen dari sistem pendidikan yang urgent untuk dilakukan perubahan dalam rangka mengikuti perkembangan zaman adalah kurikulum. Perubahan zaman tersebut menuntut dunia pendidikan untuk senantiasa melakukan inovasi dalam rangka mengimbangi perkembangan yang ada.




[1] Disampaikan dalam pembinaan guru-guru Al-Azhar Jatijaya, 15 September 2012 di Semarang.

Selasa, 14 November 2017

Yuk Bermain, Antri Ya!...

08.39 0 Comments
Hari itu kuajak anak-anak bermain di arena prosotan dan ayunan. Semua anak berebut untuk mencoba mainan tersebut. Sudah ada kesepakatan bahwa setiapyang akan naik prosotan harus antri terlebih dahulu. Namun, ada satu anak yang melanggar peraturan yang telah disepakati. Dia menaiki tempat prosotan dengan melawan arus yang seharusnya. Semua anak protes dan menyalahkan anak tersebut. Kucoba dekati anak tersebut, “Adek, kenapa kamu naik lewat arah yang berbeda?”, tanyaku sambil menunjuk tempat dia tadi menaiki prosotan.
“Habisnya, kalau naik lewat sana harus antri, Bu”, jawabnya dengan santai.
“Oh, begitu ya. Kira-kira apa yang kamu lakukan berbahaya tidak ya?”, lanjutku.
“ Ya, berbahaya Bu.”
“Apa bahayanya, Nak?”
“Bisa tubrukan dengan temanyang dari atas.”
“Kalau begitu, betul atau salah ya kalau kita naik dengan cara seperti itu?”
“Salah, Bu.”
“Nah, kalau sesuatu yang salah itu boleh diulangi tidak ya?”
“Tidak, Bu.” Jawab anak tersebut.

Bermain perlu latihan. Sebagaimana pula kelasku. Kulatih mereka bermain sesuai dengan dunia mereka. Melatih untuk bisa saling menghormati dan menghargai.. Sebelumnya diberikan beberapa peraturan agar berjalan dengan baik. Peraturan itu diajukan sendiri oleh anak-anak, bukanlah guru yang menentukan. Diantara yang mereka usulkan adalah antri, bergantian, tidak menyakiti teman, membantu dan lain sebagainya. Alhamdulillah, peraturan bisa berjalan dengan baik. 

Nafisah Al Akhfiya'

Selasa, 07 November 2017

Kreativitas Tanpa Batas

08.24 0 Comments
Kreativitas menurut kamus berarti kemampuan untuk mencipta (Kamus Umum Bahasa Indonesia, 2002:599). Kreativitas adalah ekspresi manusia (berpikir, merasa, menginderakan, dan intuisi). Kreativitas mengandung getaran emosional yang sangat khusus (Clark 1986 dalam Semiawan, 1997). Sedangkan menurut Munandar, kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru atau kemampuan untuk membentuk kombinasi-kombinasi baru dari bahan, unsur atau hal-hal lain yang telah tersedia sebelumnya (1992).
Istilah kreativitas diambil dari bahasa Inggris, yaitu dari kata dasar to create yang berarti to cause (something new) dan to exist produce (something new). Dari kata to create tadi dapat dibentuk berbagai kata jadian. Kita dan anak sebenarnya sudah kreatif. Lahir awal ke dunia sudah kreatif. Kreativitas anak merupakan tahapan paling awal dari seluruh tahapan kreativitas yang ada. Maka kreativitas anak justru dimaksudkan sebagai landasan kokoh untuk hadirnya kreativitas yang sejati. Membangun kreativitas anak berarti membangun fondasi kreativitas itu sendiri. Ibarat bangunan, fondasi itulah yang akan menentukan wujud bangunan finalnya. Kalau fondasi saja dangkal, tak mungkin di atasnya berdiri bangunan tingkat lima. Semakin kuat dan tinggi bangunan yang akan didirikan di atasnya, semakin dalam dalam dan kuat fondasi yang harus dibangunnya.
Seseorang individu dengan potensi kreatif dapat dikenal secara mudah melalui pengamatan ciri-ciri yang dimiliki terutama dalam setiap pertemuan atau diskusi. Ciri-ciri tersebut antara lain:
a.         Mempunyai hasrat ingin mengetahui
b.        Bersikap terbuka terhadap pengalaman baru
c.         Panjang akal
d.        Keinginan untuk menemukan dan meneliti
e.         Cenderung lebih suka melakukan tugas yang lebih berat dan sulit
f.         Berpikir fleksibel, bergairah, aktif dan berdedikasi dalam melakukan tugas
g.        Menanggapi pertanyaan dan punya kebiasaan untuk memberikan jawaban lebih banyak
Sedangkan Parnes (1972) mengungkapkan bahwa kemampuan kreatif dapat dibangkitkan melalui masalah yang memacu pada lima macam perilaku kreatif sebagai berikut:
1.        Fluency (kelancaran), yaitu kemampuan mengemukakan ide yang serupa untuk memecahkan suatu masalah.
2.        Flexibility (keluwesan), yaitu kemampuan untuk menghasilkan berbagai macam ide guna memecahkan suatu masalah di luar kategori yang biasa
3.        Originality (keaslian), yaitu kemampuan memberikan respon yang unik atau luar biasa
4.        Elaboration (keterperincian),yaitu kemampuan menyatakan pengarahan ide secara terperinci untuk mewujudkan ide menjadi kenyataan
5.        Sensitivity (kepekaan) yaitu kepekaan menagkap dan menghasilkan masalah sebagai tanggapan terhadap suatu situasi.

Kreativitas merupakan barang langka dan mahal, karena tercipta dari hasil olah pikir yang tidak biasa. Orang yang bermental kreatif memang cenderung “nyleneh” dalam pandangan umum. Akan tetapi, kreativitas itulah yang menghidupkan seluruh dendrit dan akson di otaknya.

Nafisah Al Akhfiya'
11-2017
 

Sabtu, 04 November 2017

Bijak Memilih Mainan untuk Anak

09.31 0 Comments

Mainan merupakan satu hal yang tak bisa terlepas dari dunia anak. Bahkan bisa dikatakan bahwa mainan ini merupakan salah satu kebutuhan mendasar bagi mereka. Dengan begitu, orang tua perlu untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pemenuhan akan mainan ini pun tak hanya sekedar menunaikan kewajiban saja tanpa memperhatikan beberapa pertimbangan. Banyak orang tua mengira bahwa mereka telah melakukan tugas mereka dengan baik jika mereka membelikan mainan yang banyak dan bagus untuk anak-anaknya. Namun, mereka tidak merasa perlu menumbuhkan minat anak dengan menunjukkan apa saja yang dapat dilakukan dengan bahan/alat permainan tersebut. Di sinilah peran penting dari orang tua sebagai motivator, fasilitator dan  mediator yang membantu anak melihat kemungkinan yang ada yang terkandung dalam suatu alat permainan dan bagaimana menggunakannya dalam bermain.
Beberapa pertimbangan yang perlu untuk diperhatikan diantaranya adalah:
1.    Kesukaan anak , alasannya jika mainan itu tidak atas dasar kesukaan anak, maka anak tidak mau memainkannya.
2.    Harga, alasannya disesuaikan dengan keadaan rumah tangga keluarga.
3.    Bentuk,  alasannya adalah karena mainan itu tidak berbahaya/aman bagi anak.
4.    Warna, alasannya anak-anak sebagian besar lebih menyukai warna-warna yang mencolok.
Faktor lain yang mendasari adalah tingkat usia anak. Mainan yang sama dapat digunakan oleh anak-anak dari umur yang berbeda, tetapi maknanya berbeda. Misalnya bermain dengan balok-balok dapat dilakukan oleh seorang bayi (yang hanya memegangnya dan memasukannya ke dalam mulut), anak kecil dengan membuat deretan/tumpukan dari balok-balok tersebut tanpa tujuan tertentu. Sedangkan anak yang lebih besar menggunakan imajinasinya (fantasi/khayalan) untuk membangun sesuatu.
Sedangkan menurut Prof .Dr. S.C. Utami Munandar, alat permainan yang dapat menunjang kreativitas adalah yang memiliki beberapa nilai diantaranya: fisik, sosial, edukatif, kreativitas, terapeutis, pemahaman diri, moral, akhlak, kepribadian dan solutif

Jadi dalam memberikan mainan itu tidak hanya tergantung dari banyak/sedikit mainan. Yang lebih baik adalah menyediakan alat permainan anak dalam jumlah yang terbatas sehingga tidak terjadi “overstimulation” dan anak lebih mudah memfokuskan perhatiannya pada beberapa mainan. Seiring dengan perkembangan zaman, hendaknya perlu dikembangkan alat-alat permainan baru yang mengandung nilai-nilai tradisional namun tetap relevan dengan perkembangan zaman. Karena di samping merupakan warisan budaya, pada umumnya relatif tidak mahal (menggunakan bahan sederhana dan mudah diperoleh) dan bermanfaat bagi perkembangan anak. Dengan begitu, perkembangan anak tetap tertunjang dan juga terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.


Nafisah Al Akhfiya'
04/11/2017

Jumat, 20 Oktober 2017

Imitasi untuk Kreasi

08.21 0 Comments
Meniru atau imitasi merupakan kegiatan yang sering dilakukan oleh anak-anak. Segala sesuatu di sekitar mereka dapat menjadi bahan untuk makanan otak. Makanan tersebut selanjutnya akan diproses di dalam otak yang akhirnya akan menjadi awal kebiasaan anak-anak. Kegiatan bermain merupakan salah satu  pembentuk kebiasaan.Dengan bermain, banyak hal yang akan dipelajari oleh anak. Ketika kita perhatikan, anak-anak sering bermain memerankan diri sebagai satu sosok. Sosok tersebut mereka tiru dari pengamatan mereka pada karakter yang mereka temui sehari-hari. Selain meniru, anak-anak juga sering menganggap mainan tersebut sebagai karakter hidup. Seringkali kita menemui anak-anak mengajak mainannya untuk “ngobrol” atau melakukan sesuatu kegiatan.
Anak-anak sering meniru karakter dari mainannya dan juga mengajak berdialog dengan mainan tersebut.  Kegiatan bermain seperti ini disebut sebagai permainan ‘ilusi’. Artinya, anak memberikan peran tertentu pada benda atau ia sendiri melakukan peran tersebut. Ia berkhayal bahwa kursi adalah kereta, sapu adalah kuda, tongkat adalah pedang, dan ia sendiri menjadi kapten, dokter, ibu atau yang lainnya. Melalui permainan ilusi ini, di samping anak dapat mengembangkan kemampuan sosial dan bahasa ia juga dapat mengembangkan kreativitas dan imajinasi. Dalam deklarasi hak-hak anak yang ditetapkan PBB tahun 1959 menyatakan bahwa seseorang perlu diberi kesempatan untuk berkhayal (menggunakan daya imajinasinya), karena bermain dan berkhayal adalah kebutuhan inheren (bagian dari diri) dari anak. Melalui bermain dan berkhayal, kreativitas anak dapat dipupuk.
Kemampuan ini nantinya akan berimbas pada sosialisasi anak di tengah teman-temannya ataupun masyarakat di sekitarnya. Anak yang sering mengajak mainannya beraktivitas ataupun mengobrol cenderung akan lebih siap ketika di bangku sekolah diminta untuk tampil berbicara ataupun bercerita. Dia juga akan disukai teman-teman karena kenampuannya menarik perhatian dengan bercerita.

Nafisah Al Akhfiya’

20/10/2017

Kamis, 19 Oktober 2017

Bercerita sebagai Jalan Emas Kreativitas

10.10 0 Comments
Bercerita adalah kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak. Dengan cerita, anak-anak dapat masuk ke dalam sebuah suasana berbeda. Cerita dapat memantik imajinasi anak sampai pada tingka yang tak pernah kita kira. Anak dengan tipikal apapun , pasti senang dengan kegiatan bercerita meskipun cara untuk menyampaikan maupun mennanggapi sangat beragam. Hal-hal yang sering diceritakan oleh anak-anak biasanya tentang karakter mainan, kesukaan dia terhadap mainan tersebut, membandingkan mainan dengan yang lain, dan lain sebagainya. Selanjutnya, aktivitas bercerita itu dapat berfungsi untuk membangun hubungan yang erat dengan anak karena orang tua akan lebih banyak meluangkan waktunya untuk mendengarkan cerita dari anaknya.
Kebiasaan bercerita ini sudah berlangsung sejak dulu. Mungkin sebagian besar orang tua kita masih mengalami masa itu. Di waktu malam telah merambat naik, di kala rumah-rumah berdinding bambu hanya diterangi dengan “senthir” yang mana nyalanya terlihat menembus celah bambu tersebut. Ditemani suara jangkrik yang bersahut dengan suara burung malam, bulan pun mulai menampakkan dirinya. Nah, pada saat itulah sejumlah penghuni rumah bambu keluar untuk menikmati indahnya rembulan yang indah malam itu. Saat itulah, ritual cerita dari ayah ibu pun dimulai. Tema cerita tersebut sangat beragam. Cerita tentang pengalaman, mitos, legenda dan cerita lain yang membuat anak-anak tak lepas pandang dari bibir-bibir bijaksana tersebut. Cerita tersebut bisa menjadi media transfer nilai dan sejarah bagi generasi setelahnya.
Tak hanya mendengar cerita yang mereka dapat, tapi kemampuan untuk mentransfer cerita yang mereka dapatkan kepada khalayak lain. Imitasi atas apa yang disampaikan tersebut menjadi bagian pembelajaran yang sangat efektif.  Soundy dan Genisio (1994) menekankan pentingnya kesempatan bagi anak-anak untuk bercerita. Pengalaman demikian sangat penting bagi anak untuk mengembangkan kemampuan bercerita, mengungkapkan pikiran dan untuk mengoptimalkan perkembangan bahasanya. Bila anak merasa kesulitan untuk memulai bercerita tentang permainan tersebut, orang tua bisa merangsang dengan mengajukan pertanyaan kepada anak. Oleh karena itu, luangkan waktu untuk bercerita dan mendengarkan cerita dari mulut-mulut kecil anak-anak kita.

Nafisah Al Akhfiya’

19/10/2017
Foto: Rakha

Jumat, 24 Februari 2017

Model Pendidikan Karakter

11.23 0 Comments
Pendidikan karakter yang digaungkan saat ini sepertinya belum bisa menjawab persoalan yang semakin hari semakin bertambah berat. Persoalan tersebut diantaranya terkait dengan moral dan akhlak anak dalam kehidupan kesehariannya. Penanaman karakter melalui doktrinasi seperti yang diberikan para pendahulu tidak lagi bisa diterapkan pada kondisi zaman seperti saat ini. Kondisi siswa saat ini lebih membutuhkan pemahaman yang “gamblang” tentang segala sesuatu yang mereka hadapi. Pemberian tauladan pun semakin tak dihiraukan. Hal ini disebabkan adanya krisis figuritas. Figur atau tokoh yang layak untuk bisa dijadikan pijakan dalam bersikap semakin sedikit. Ketika ada pun, biasanya mereka adalah bagian kecil dari masyarakat yang tak terekspos oleh media. Padahal saat ini, figur yang biasa menjadi panutan dan anutan seorang anak adalah yang sering muncul di media massa.  Walaupun kadang tidak menghiraukan sama sekali kualitas dari sang figur tersebut.
Pemangkasan materi sebagai usaha perbaikan kurikulum pun sepertinya belum menampakkan hasil. Beberapa pandangan menyebutkan bahwa merosotnya kualitas pendidikan karakter dikarenakan beban berat seorang anak dalam menerima pelajaran. Guru terfokus untuk menyampaikan gemuknya materi sehingga tak menghiraukan lagi segi sikap ataupun afektif peserta didiknya. Pendapat ini tak juga salah. Tuntutan yang berat dari kurikulum memang membuat guru kewalahan. Tak hanya dalam hal mengajar saja tetapi juga dalam hal mendidik. Alhasil, nilai hidup yang sejatinya tersisip dalam setiap proses pembelajaran pun menjadi terlupa.
Pertanyaan besar yang mungkin bisa diajukan saat ini adalah: model pendidikan karakter seperti apa yang tepat untuk diterapkan dalam mengatasi segala problematika yang membelit moral anak bangsa? Yang pertama harus diyakini oleh para pendidik adalah segala masalah pasti mempunyai jalan keluar. Salah satu jalan keluar dalam menjawab pendidikan karakter bangsa ini adalah dengan metode komprehensif. Apa itu metode komprehensif dalam pendidikan karakter? Metode ini berkembang sebagai kesadaran akan situasi yang serba kompleks. Pendekatan ini menekankan pada lulusan yang mampu membuat keputusan moral dan sekaligus memiliki perilaku yang terpuji berkat pembiasaan terus-menerus dalam proses pendidikan (Zuchdi, dkk, 2013: 16). Pendekatan ini melibatkan beberapa segi diantaranya metode yang diterapkan, pendidik yang berpartisipasi, serta konteks berlangsungnya pendidikan karakter.

Metode yang digunakan dalam pendekatan komprehensif pendidikan karakter meliputi inkulkasi (inculcation), keteladanan (modelling), fasilitasi (facilitation) dan pengembangan keterampilan (skill building). Inkulkasi atau penanaman nilai merupakan usaha pengintegrasian nilai kehidupan pada diri anak secara terus-menerus setiap hari. Sebagai contoh adalah menghargai pendapat orang lain, memperlakukan orang lain secara adil, mengomunikasikan kepercayaan ataupun keragu-raguan disertai alasan yang mendasarinya, memberikan konsekuensi disertai alasan yang kuat, menjaga komunikasi dengan teman yang berbeda pendapat, memberikan kebebasan bagi adanya perilaku yang berbeda-beda. Sikap tersebut harus dibiasakan dan menjadi bagian hidup dalam pemecahan masalah yang dihadapi oleh para siswa. Usaha penanaman tersebut tak akan sempurna jika tidak dilengkapi dengan modelling, facilitating dan skill building. Pembahasan selanjutnya dapat dibaca pada Model Pendidikan Karakter (part 2).
 

Kamis, 23 Februari 2017

Siswa, Ladang Belajar Guru

14.17 0 Comments

Siswa merupakan bagian tak terpisahkan dalam sebuah proses pendidikan. Mereka adalah subjek sekaligus objek dari pendidikan tersebut. Ketika pertama kali guru bertemu dengan siswanya, pastilah akan menemukan beragam tipe ataupun karakteristik pada tiap individu. Seorang anak dilahirkan dengan berbagai keunikan. Penciptaan manusia dengan berbagai ragam rupa, sifat, kemampuan pun termasuk di dalamnya. Perbedaan adalah hukum fitrah dalam semua bidang kehidupan. Bahkan Allah SWT dalam menciptakan setiap makhluk-Nya tidak ada satupun yang sama persis. Sudah bisa dipastikan dari dua individu pasti terdapat perbedaan dalam satu ataupun beberapa hal. Perbedaan ini mencakup seluruh aspek kehidupan.
Dalam konteks pendidikan, unsur yang saling berinteraksi di dalam proses pembelajaran adalah antara guru dengan siswa, maka hakikat dari perbedaan ini juga penting untuk dipahami. Perbedaan siswa sebagai pelaku pendidikan merupakan suatu hal yang wajar, karena mereka berasal dari latar belakang yang sangat beragam pula. Individu perserta didik memiliki cara-cara yang berbeda dalam memahami informasi dalam proses pembelajaran. Perbedaan ini tergantung pada gaya belajar yang lebih disukai.
Perbedaan dalam diri siswa tersebut dapat disikapi dengan dua hal oleh guru, yaitu menjadi sebuah penghalang ataukah menjadi sebuah peluang. Kondisi tersebut menjadi penghalang ketika guru belum sepenuhnya memahami kondisi siswa. Sebagai seorang guru, kita sangat berharap mendapat amanah anak-anak yang mudah untuk diajari, baik dalam akhlaq, pintar dan kelebihan yang lainnya. Namun, harapan tersebut tak seluruhnya sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Tak sedikit dan tak jarang pula kita mendapat amanah anak-anak yang memiliki special needs. Entah itu dalam hal kognitif, perilaku, ataupun sosial emosional. Setiap anak tidak meminta dia dilahirkan dengan special needs.
Penyikapan terhadap kenyataan bahwa banyak diantara siswa yang menjadi amanah kita memiliki kekurangan ataupun kelebihan adalah sebuah kesadaran bahwa memang itulah tugas seorang guru. Guru mempunyai kewajiban untuk membawa anak-anak yang tidak tahu menjadi tahu, yang tidak bisa menjadi bisa dan yang tidak baik menjadi baik. Jika semua siswa yang masuk sudah tahu, bisa dan baik, lantas apa tugas guru? Tidak mempunyai tugas apapun selain menjalani rutinitas harian yang mungkin kadang membosankan.
Menghadapi kenyataan akan kekurangan dan kelebihan siswa yang kita ajar itulah yang merupakan seni menjadi seorang guru. Anak yang diberikan kelebihan oleh Allah dengan kecepatan dalam mempelajari sesuatu, bahkan kadang lebih daripada gurunya, akan menantang seorang guru untuk tak berhenti belajar. Guru akan terpacu untuk senantiasa meningkatkan kemampuannya dalam bidang yang digeluti. Dengan begitu, guru akan terjauh dengan apa yang dinamakan comfort zone (zona aman) yang kadang tercipta karena kondisi kelas yang biasa-biasa saja. Tapi, karena ada yang yang tidak biasa alias luar biasa, maka guru pun akan berusaha mengimbanginya untuk menjadi luar biasa.
Begitu pula ketika guru dihadapkan dengan siswa yang oleh Allah memang diciptakan tidak seperti kebanyakan siswa lain dalam hal kecepatan belajar. Kondisi itu pun akan melecut guru untuk menemukan cara dalam mengajar agar si anak mudah dalam menerima pelajaran. Sikap apatis dan menyerahkan kondisi dengan menyalahkan keluarga apalagi anak yang bersangkutan bukanlah solusi. Sikap tersebut justru akan membekaskan luka mendalam di hati anak. Betapa dia akan merasa tidak diterima dan diacuhkan karena kondisinya yang berbeda dengan anak yang lain. Jangan sampai kita menjadi guru yang berpandangan seperti itu. Menyalahkan kondisi anak ketika hasil perolehan nilai tak meningkat secara signifikan. Introspeksi merupakan jalan yang harus dilakukan oleh kita para guru. Bisa jadi ketidakberhasilan tersebut karena kita sebagai guru belum berusaha secara maksimal dalam mengajar siswa yang menjadi amanah kita. Kondisi anak yang spesial tersebut telah mengubah cara berpikir guru yang mengampunya. Selain itu, kondisi tersebut juga telah membuat sang guru tak pernah berhenti untuk belajar dari waktu ke waktu.  Dengan begitu, siswa akan menjadi ladang luas tempat guru untuk selalu meningkatkan kemampuannya.