Follow Us @nur_keyza

Kamis, 25 Januari 2018

Kunci yang tak Sengaja Ditemukan (part 2)

22.08 0 Comments


Setelah beberapa saat, salah satu guru datang padanya dan berkata, “Nak, coba sini duduk dengan Bu Guru. Lihat Bu Guru sebentar” dengan ogah-ogahan dia mencoba menuruti guru tersebut. “Bu Guru cuma mau bertanya, Islam itu mengajarkan kita kerapian tidak ya?”, anak tersebut mengangguk. “Nah, kalau begitu Bu Guru ingin kamu menunjukkan contoh bahwa Islam mengajarkan kerapian itu seperti apa. Itu saja, oke!” . Sang guru meninggalkan anak itu dan terlihat bahwa dia berpikir. Tak lama setelah itu, dia keluar ruangan, tak tahu apa yang mau dilakukan. Setelah anak tersebut masuk, sang guru melihat keluar dan ternyata sepatu yang tadi ditumpuk sudah berjajar rapi dengan sepatu yang lain.

Subhanallah, bertambah ilmu lagi bagi kami. Pelajarannya adalah bahwa hati anak hanya bisa disentuh dengan hati. Sebuah kayu yang bengkok, jika dipaksa diluruskan maka akan patah. Sejak saat itu, maka sang guru selalu mencoba membicarakan segala sesuatu dengan baik dan memantik anak-anak dengan pemikiran agar mereka terbiasa melakukan atas kesadaran mereka sendiri. 

Senin, 22 Januari 2018

Kunci yang tak Sengaja Ditemukan (part 1)

17.32 0 Comments


Hari ini waktunya jalan-jalan. Anak-anak akan diajak untuk mengunjungi beberapa tempat yang ada di sekolah, diantaranya ruang tata usaha, ruang kepala sekolah, ruang PSB, Ruang Komputer dan Ruang AVA. Sangat menyenangkan memang, terutama bagi anak-anak yang berlebih energi. Serasa mereka bisa mengekspresikan sesuatu yang mereka tunggu, yaitu mengeksplorasi alam luar.
Hingga pada suatu ketika tibalah di sebuah ruangan bernama Pusat Sumber Belajar. Pengelola membuat aturan bahwa sepatu diatur dengan rapi di luar ruangan, tentunya berdasar bahwa Islam itu mencintai keindahan. Seorang anak yang memang guratan pendiriannya tegas melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh temannya. Dia meletakkan sepatu secara acak, ditumpuk diantara sepatu yang lain. Langsung saja dia melenggang ke dalam ruang PSB.  Salah satu guru yang sedari tadi mengingatkan segera bergerak untuk menertibkan. Anak tersebut coba untuk dipaksa merapikan sepatu, tapi tak bisa juga. Justru dia memberontak dan bertanya “Kenapa harus ditata rapi?”.  
Setelah beberapa saat, salah satu guru datang padanya dan berkata, “Nak, coba sini duduk dengan Bu Guru. Lihat Bu Guru sebentar” dengan ogah-ogahan dia mencoba menuruti guru tersebut. “Bu Guru cuma mau bertanya, Islam itu mengajarkan kita kerapian tidak ya?”, anak tersebut mengangguk. “Nah, kalau begitu Bu Guru ingin kamu menunjukkan contoh bahwa Islam mengajarkan kerapian itu seperti apa. Itu saja, oke!” . Sang guru meninggalkan anak itu dan terlihat bahwa dia berpikir. Tak lama setelah itu, dia keluar ruangan, tak tahu apa yang mau dilakukan. Setelah anak tersebut masuk, sang guru melihat keluar dan ternyata sepatu yang tadi ditumpuk sudah berjajar rapi dengan sepatu yang lain.
Subhanallah, bertambah ilmu lagi bagi kami. Pelajarannya adalah bahwa hati anak hanya bisa disentuh dengan hati. Sebuah kayu yang bengkok, jika dipaksa diluruskan maka akan patah. Sejak saat itu, maka sang guru selalu mencoba membicarakan segala sesuatu dengan baik dan memantik anak-anak dengan pemikiran agar mereka terbiasa melakukan atas kesadaran mereka sendiri.

Nafisah_azhief

2018

Selasa, 16 Januari 2018

Cerdas Memilih Bahan Ajar

20.19 0 Comments

Bahan ajar bentuknya sangat beragam. Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) secara garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Menurut Dewey, dalam penyusunan bahan ajar hendaknya memperhatikan beberapa syarat. Diantara syarat tersebut adalah:[1]
a.         Bahan ajar hendaknya konkret, dipilih yang betul-betul berguna dan dibutuhkan, dan dipersiapkan secara sistematis dan mendetil.
b.        Pengetahuan yang diperoleh sebagai hasil belajar, hendaknya ditempatkan dalam kedudukan yang berarti, yang memungkinkan dilaksanakannya kegiatan baru, dan kegiatan yang lebih menyeluruh.
Bahan  pelajaran bagi anak tidak bisa semata-mata diambil dari buku pelajaran, yang diklasifikasikan dalam mata-mata pelajaran terpisah. Mata pelajaran harus berisikan kemungkinan-kemungkinan, harus mendorong anak untuk bergiat dan berbuat. Bahan pelajaran harus memberikan rangsangan pada peserta didik untuk bereksperimen. Dengan demikian, harapannya adalah supaya peserta didik yang aktif, bekerja, dan berkesperimen. Bahan pelajaran tidak diberikan dalam disiplin-disiplin ilmu yang ketat, tatapi merupakan kegiatan yang berkenaan dengan suatu masalah (problem).
Peranan guru bukan hanya berhubungan dengan mata pelajaran, melainkan dia harus menempatkan dirinya dalam seluruh interaksinya dengan kebutuhan, kemampuan, dan kegiatan siswa. Guru juga harus dapat memilih bahan-bahan yang sesuai dengan kebutuhan mayarakat dan lingkungan. Metode mengajar merupakan penyusunan bahan pelajaran yang memungkinkan diterima oleh para siswa dengan lebih efektif. Sesuatu metode tidak pernah terlepas dari bahan  pelajaran, kita dapat membedakan cara berbuat, tetapi cara ini hanya ada sebagai cara berhubungan dengan atau materi tertentu. Metode mengajar harus fleksibel dan menimbulkan inisiatif kepada para siswa. [2]

Januari 2018
Nafisah Azhief



[1] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek..., hal 44
[2] Ibid.

Jumat, 12 Januari 2018

Bermain Memupuk Kreativitas

20.22 0 Comments


Bermain adalah dunia anak yang sebenarnya. Jenis permainan dan alat permainan pun bermacam-macam. Namun, pernahkah orang tua anak sebagai pemberi mainan tersebut memikirkan tujuan mereka memberikan mainan tersebut selain untuk kesenangan anak. Sebenarnya usia anak-anak terutama di bawah 7 tahun adalah masa-masa emas bagi orang tua untuk membina dan mengembangkan kemampuan anak. Hal ini dapat dilakukan tak hanya dengan pendidikan dalam rangka pengembangan intelektual (IQ), tapi dapat pula digali dari kemampuan anak dalam hal berkreasi /kreativitas. Kreativitas ini tergolong dalam kecerdasan EQ dan SQ.   
Setiap orang memiliki bakat kreatif meskipun masing-masing dalam bidang dan derajat yang berbeda-beda. Bakat kreatif perlu dipupuk dan dikembangkan sejak dini melalui berbagai cara. Prof.Dr. Utami Munandar mengatakan bahwa salah satu caranya adalah dengan memberikan mainan kepada anak. Bermain merupakan bagian dari perkembangan anak. Kehidupan seorang anak bisa dikatakan tidak bisa dilepaskan dari bermain. Bermain sudah merupakan kebutuhan bagi mereka.  
Permainan pun bermacam-macam. Ada permainan yang tidak memerlukan peralatan sama sekali, namun tak sedikit permainan yang memerlukan alat pendukung. Alat permainan tersebut sangat bermanfaan bagi anak untuk melatih kemampuan fisik maupun olah pilkir yang hisa kita sebut sebagai kreativitas. Kreativitas yang berkembang dari pemberian mainan anak tersebut tergantung dari jenis alat permainannya. Jenis kreativitas itu misalnya kemampuan bercerita, berkarakter, mencipta/membangun, berinteraksi dan lain-lain. Jadi, dalam pemberian mainan orang tua seharusnya mempertimbangkan faktor-faktor yang mendukung terhadap perkembangan kreativitas tersebut. Bermula dari alat permainan sederhana, otak anak akan berkembang melebihi ekspetasi yang diharapkan orang tua. Bermain peran, mencipta, menyususn balok atau lego, menggambar adalah beberapa permainan yang dapat memantik kreativitas tersebut.
Oleh karena itu, tak ada kata terlambat untuk memulai. Anak adalah investasi masa depan. Orang tua seharusnya lebih serius memperhatikan kemampuan yang sudah ada sehingga bisa berkembang secara optimal. Bimbingan dari orang tua juga merupakan kunci perkembangan kreativitas tersebut. Orang tua yang kreatif pasti akan melahirkan anak-anak yang kreatif pula.

Nafisah Azhief
2018


Kamis, 07 Desember 2017

Ekspresi Rasa Lewat Goresan Si Kecil

17.15 0 Comments

Kegiatan bermain memberi banyak kesempatan kepada anak untuk mengekspresikan perasaannya secara bebas. Melalui bermain anak dapat mengekspresikan perasaan senang, takut, khawatir, kecewa, sedih dan sebagainya. Tak dapat dibayangkan jika dunia anak tanpa bermain sama sekali. Mungkin tak hanya orang dewasa yang merasakan stress ataupun “galau” karena suatu masalah, akan tetapi anak-anak pun seperti itu. Apa jadinya jika banyak anak yang merasa terteka? Padahal selama ini, stress yang dialami orang tua dapat sejenak terlupa ketika mereka bertemu dengan anak-anaknya. Anak bagai obat mujarab bagi sedihnya orang dewasa. Banyak pesan disampaikan oleh para penggiat anak tentang penekanan akan pentingnya waktu bermain bagi anak. Waktu bermain merupakan hal yang sangat berharga bagi mereka. 
Ekspresi rasa dapat tersalur dengan bermain. Dan mungkin tak hanya berlaku bagi anak-anak saja, akan tetapi orang dewasa pun pasti merasa “enteng” ketika bisa meluapkan perasaannya dengan bermain. Jenis permainan anak untuk mengekspresikan perasaan sangatlah beragam. Salah satunya adalah dengan menggambar atau melukis. Kegiatan melukis, menggambar ataupun mewarnai sangat dekat dengan anak-anak. Apa yang tergores dari pensil ataupun pewarnaan dapat mencerminkan kondisi anak tersebut. Bahkan persoalan-persoalan yang terjadi seringkali diekspresikan melalui menggambar.
Dengan penggunaan alat-alat tulis seperti pensil dan crayon, anak akan mengembangkan kesenangan, minat dan kemampuan menggambar/menulisnya meskipun pada awalnya mungkin hanya berupa coretan-coretan yang seolah-olah tak punya makna apa-apa. Namun, penelitian Schicke (1990), disajikan dalam buku berjudul Adam’s Righting Revolutions menunjukkan bahwa coretan-coretan yang dibuat oleh anak itu bisa memiliki makna dan menunnjukkan perkembangan ke arah kemampuan yang sebenarnya. Maka tak salah kiranya jika orang tua memfasilitasi anak untuk mengekspresikan perasaannya lewat menggambar.  
           

          Nafisah Al Akhfiya’

Rabu, 22 November 2017

Kurikulum, Jangan Ketinggalan Zaman

22.45 0 Comments
Perubahan zaman yang terjadi pada abad ke-21 ini merupakan suatu hal yang tidak bisa dipungkiri apalagi dihindari. Globalisasi telah mengubah semua segi kehidupan dalam masyarakat. Perubahan tersebut diantaranya terjadi pada pemanfaatan teknologi. Saat ini, segala hal yang menyangkut kebutuhan manusia dicukupi dan diselesaikan dengan teknologi. Sebagai contoh perkembangan teknologi tersebut adalah adanya internet dan televisi yang memungkinkan penonton menentukan sendiri apa yang akan dipilih. Belum lagi segala peralatan komunikasi yang semakin canggih memberikan kesempatan untuk beraktivitas dan bermobilitas dengan sangat mudah. Adanya perkembangan teknologi tersebut menurut Giddens (2009:1) disebut sebagai sebuah dunia yang tunggang langgang (runaway world). Hal ini berarti bahwa jarak dan waktu bukan menjadi sebuah halangan bagi aktivitas yang akan dilakukan.
Gejala akan perubahan tesebut juga berdampak pada dunia pendidikan yang notabene memiliki hubungan erat dengan perubahan dalam bidang teknologi maupun ekonomi. Perkembangan dalam bidang ekonomi maupun teknologi tersebut telah mengubah karakter dari ilmu pengetahuan. Prof. Dr. Jimmy Assidiqie mengungkapkan bahwa dengan adanya ICT pada saat ini, proses pembelajaran pada lingkungan sekolah tidak memerlukan guru ataupun dosen sebagai penyampai ilmu. Ilmu pengetahuan dapat didapatkan dengan mudahnya melalui fasilitas yang sangat berlimpah di sekitar peserta didik[1]. Paradigma berpikir pembelajaran jaman dulu yang menganggap bahwa peserta didik sebagai sebuah gelas kosong harus diubah. Ketika pertama duduk di bangku sekolah, seorang peserta didik merupakan sebuah gelas berisi yang siap untuk diberikan warna dan rasa oleh para guru.
Pergeseran lain yang terjadi adalah dalam hal skill yang diasah. Pendidikan merupakan sebuah upaya untuk mengubah seseorang dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa. Oleh karena itu, skill/kemampuan yang diasah pun tidak hanya menitikberatkan pada siswa untuk tahu apa, tetapi lebih kepada siswa bisa melakukan apa dari ilmu yang diketahui. Bloom (2010: 26) menyampaikan  bahwa terdapat tiga ranah yang dikembangkan dalam proses pembelajaran yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Dari segi kognitif, pola pembelajaran di Indonesia sangat menonjol dengan mengantarkan siswanya untuk menghafal semua rumus dan konsep dari materi pelajaran. Namun, sisi psikomotor yang menitikberatkan pada praktik yang relevan dengan kehidupan sehari-hari masih sangat kecil porsinya. Sementara untuk ranah afektif yang menitikberatkan pada pembentukan karakter, saat ini sedang digaungkan melalui rencana implementasi kurikulum 2013.
Perubahan zaman yang membawa pada pergeseran pengetahuan dan tuntutan penguasaan skill / keterampilan yang lebih kompleks tersebut menuntut dunia pendidikan untuk senantiasa melakukan perbaikan. Salah satu komponen dari sistem pendidikan yang urgent untuk dilakukan perubahan dalam rangka mengikuti perkembangan zaman adalah kurikulum. Perubahan zaman tersebut menuntut dunia pendidikan untuk senantiasa melakukan inovasi dalam rangka mengimbangi perkembangan yang ada.




[1] Disampaikan dalam pembinaan guru-guru Al-Azhar Jatijaya, 15 September 2012 di Semarang.

Senin, 13 November 2017

Yuk Bermain, Antri Ya!...

17.39 0 Comments
Hari itu kuajak anak-anak bermain di arena prosotan dan ayunan. Semua anak berebut untuk mencoba mainan tersebut. Sudah ada kesepakatan bahwa setiapyang akan naik prosotan harus antri terlebih dahulu. Namun, ada satu anak yang melanggar peraturan yang telah disepakati. Dia menaiki tempat prosotan dengan melawan arus yang seharusnya. Semua anak protes dan menyalahkan anak tersebut. Kucoba dekati anak tersebut, “Adek, kenapa kamu naik lewat arah yang berbeda?”, tanyaku sambil menunjuk tempat dia tadi menaiki prosotan.
“Habisnya, kalau naik lewat sana harus antri, Bu”, jawabnya dengan santai.
“Oh, begitu ya. Kira-kira apa yang kamu lakukan berbahaya tidak ya?”, lanjutku.
“ Ya, berbahaya Bu.”
“Apa bahayanya, Nak?”
“Bisa tubrukan dengan temanyang dari atas.”
“Kalau begitu, betul atau salah ya kalau kita naik dengan cara seperti itu?”
“Salah, Bu.”
“Nah, kalau sesuatu yang salah itu boleh diulangi tidak ya?”
“Tidak, Bu.” Jawab anak tersebut.

Bermain perlu latihan. Sebagaimana pula kelasku. Kulatih mereka bermain sesuai dengan dunia mereka. Melatih untuk bisa saling menghormati dan menghargai.. Sebelumnya diberikan beberapa peraturan agar berjalan dengan baik. Peraturan itu diajukan sendiri oleh anak-anak, bukanlah guru yang menentukan. Diantara yang mereka usulkan adalah antri, bergantian, tidak menyakiti teman, membantu dan lain sebagainya. Alhamdulillah, peraturan bisa berjalan dengan baik. 

Nafisah Al Akhfiya'